Makan Bergizi Gratis; Harapan dan Potensi Tantangan di Lapangan
Program Makan Bergizi Gratis mulai dijalankan di sejumlah kota dan kabupaten sebagai salah satu program unggulan dari pemerintah. Kehadirannya membawa harapan besar bagi anak-anak, meski tetap ada tantangan yang perlu dicermati bersama.
Kalau dibayangkan, program ini kelihatan indah sekali. Semua anak sekolah bisa makan siang bersama, dengan menu yang sama, tanpa membedakan siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Anak-anak duduk bareng, suasana lebih akrab, tidak ada lagi cerita ada yang bekalnya mewah sementara yang lain hanya bawa seadanya atau bahkan tidak bawa sama sekali. Secara konsep, memang keren.
Tapi begitu membayangkan praktik di lapangan, kepala saya langsung penuh. Di sekolah tempat saya, jumlah murid ada sekitar sembilan ratus orang, tersebar di dua puluh tujuh kelas. Nah, siapa yang akan membagikan makanan itu ke setiap kelas? Pastinya Guru dan Staf sekolah. Selanjutnya setelah membagi makanan, guru juga harus menunggui anak-anak saat makan, memastikan semua berjalan tertib, lalu mengumpulkan kembali wadah makan dan mengembalikannya ke mobil logistik. Memang guru tidak diminta mencuci wadah, tapi tetap saja pekerjaan tambahan seperti ini bukan hal ringan. Padahal tugas guru saja sudah cukup banyak.
Tentu ada sisi manisnya juga. Kalau guru ikut duduk makan bersama murid, suasananya bisa lebih hangat. Ada momen kebersamaan yang jarang terjadi. Kadang justru di saat santai seperti itu, hubungan guru dan murid terasa lebih dekat. Murid bisa melihat gurunya bukan hanya sebagai pengajar di depan kelas, tapi juga sebagai teman makan siang. Dari sisi pendidikan karakter, ini sebenarnya menarik.
Masalah berikutnya adalah soal banyaknya pihak yang terlibat. Program sebesar ini tentu melibatkan dapur penyedia makanan, pemasok bahan, bagian packaging, pengiriman, sampai tukang cuci wadah. Makin banyak tangan yang ikut campur, makin besar pula resiko ada yang mengambil keuntungan yang tidak semestinya. Kalau salah kelola, tujuan utama program bisa melenceng. Tapi di sisi lain, justru banyak tangan yang bekerja ini juga membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Petani, pekerja dapur, sopir, sampai tukang cuci wadah, semuanya ikut mendapat penghasilan dari rantai ini. Jadi ada dua sisi yang jelas: resiko salah kelola ada, tapi peluang terbukanya lapangan kerja juga nyata.
Lalu ada hal yang sering bikin orang khawatir: resiko kesehatan. Makanan massal seperti ini rentan bermasalah. Kalau sampai ada kasus keracunan, makanan basi dsb, dampaknya bisa sangat luas, satu sekolah bisa terkena imbas. Tentu saja kita tidak berharap hal itu tidak terjadi, tapi resiko seperti ini tetap mengintai.
Ada orang mengusulkan alternatif lain: bagaimana kalau bantuan tidak dalam bentuk makanan, tapi uang yang langsung diberikan ke orangtua? Positifnya, lebih sederhana, tidak perlu rantai distribusi yang panjang. Orangtua bisa lebih leluasa menyesuaikan dengan kebutuhan anaknya. Bahkan, bagi keluarga yang betul-betul membutuhkan, uang itu bisa dipakai untuk lauk yang bisa dinikmati seluruh anggota keluarga. Tapi kelemahannya juga jelas, ada orangtua yang sibuk lalu hanya memberikan uang ke anak untuk jajan di warung. Kalau begitu, kualitas gizi anak jadi sulit dipastikan.
Salah satu keuntungan program MBG yang menarik adalah membantu efisiensi jadwal sekolah. Sebagai contoh, dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang biasanya dilakukan pada sore hari. Sebelum MBG anak-anak harus pulang dulu untuk makan siang di rumah, berganti baju, lalu kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Dengan adanya MBG, anak-anak sudah makan siang di sekolah, sehingga jeda waktu antara kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler bisa dipersingkat menjadi sekitar 15–30 menit. dengan demikian anak-anak bisa menghemat tenaga, biaya transportasi dan tidak kalah penting lagi bisa menghemat waktu.
Saya sendiri jujur, di sekolah program ini belum jalan. Tapi diskusinya saja sudah cukup bikin pusing. Membayangkan ratusan kotak makanan masuk setiap hari, dibagi, dimakan, lalu dikembalikan, itu bukan hal sepele. Meski begitu, saya tetap percaya niat dari program ini baik sekali. Kalau bisa dijalankan dengan matang, dampaknya akan sangat besar untuk anak-anak. Mereka tidak hanya kenyang, tapi juga lebih semangat datang ke sekolah, lebih fokus belajar, dan punya waktu ekstra untuk kegiatan setelah jam pelajaran tanpa harus pulang dulu. Lebih jauh lagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu berkesmpatan mendapat gizi lebih baiak sesuai dengan ahrapan utama program ini.
Ya, semoga saja program ini bisa berjalan dengan baik. Repot tentu ada, tapi siapa tahu repot itu bisa berubah jadi berkah. Yang penting jangan sampai guru tenggelam dalam urusan logistik sampai lupa tugas utamanya. Biarlah guru tetap fokus mendidik, anak-anak tetap bisa makan dengan layak, dan sekolah tetap jadi tempat yang menyenangkan. All the best untuk MBG, semoga lancar jaya dan membawa banyak kebaikan.
Posting Komentar untuk "Makan Bergizi Gratis; Harapan dan Potensi Tantangan di Lapangan"
silahkan berkomentar