Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Kekuasaan Takut pada Kesadaran

 Refleksi dari: Eragon, Animal Farm, dan Laut Bercerita


Saya membaca Laut Bercerita sekitar sebulan yang lalu. Saya bergidik membaca kesedihan dan penderitaan yang dialami para korban penghilangan paksa, tentang bagaimana mereka mengalami penyiksaan dari alat-alat kekuasaan. Ada rasa getir ketika menyadari bahwa kekuasaan dapat melampaui batas kemanusiaan demi mempertahankan dirinya.

Hal yang paling menggetarkan bukan hanya penderitaan para korban, tetapi juga ketidakpastian yang harus ditanggung keluarga mereka. Mereka hidup dengan pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab: apakah orang yang mereka cintai masih hidup, atau sudah hilang selamanya.

Saya kemudian “melarikan diri” ke dunia lain—dunia fantasi dalam Eragon. Dunia naga, sihir, dan mantra. Dunia yang jelas tidak pernah nyata, tetapi justru terasa menyenangkan untuk ditinggali sejenak. Di sana kekuatan dapat muncul dari kata-kata kuno, dari ikatan antara manusia dan makhluk mistis—naga—dari tokoh-tokoh yang hidup ratusan tahun. Sebuah dunia yang memberi jarak dari kenyataan yang terasa terlalu berat, bahkan menjadi semacam persinggahan maya bagi kepenatan yang menyelimuti aktivitas harian.

Eragon yang cukup tebal itu habis dalam sebuah perjalanan dinas, dan setelah itu saya berpindah ke kisah lain: Animal Farm. Sebuah cerita pendek yang penuh satire dan ejekan terhadap kekuasaan—tentang bagaimana kekuasaan dikelola, dimanipulasi, dan akhirnya dilanggengkan.

Dari tiga bacaan yang sangat berbeda itu, perlahan terlihat satu benang merah: kekuasaan yang dijalankan secara tidak adil selalu takut pada kesadaran.

Kesadaran adalah hal yang berbahaya bagi kekuasaan yang ingin bertahan selamanya—atau bertahan dalam praktik yang tidak adil.


Tiga Cara Kekuasaan Mempertahankan Dirinya

Kekuasaan yang ingin bertahan lama biasanya tidak hanya bergantung pada kekuatan semata. Ia memiliki cara-cara yang lebih halus, tetapi juga lebih efektif untuk mempertahankan dirinya.

1. Menguasai Sumber Kekuatan

Semesta Eragon menggambarkan sebuah wilayah yang pada awalnya tenteram dan damai di bawah perlindungan para penunggang naga, para Dragon Rider. Selama berabad-abad mereka menjaga keseimbangan dunia, menjadi penengah ketika konflik muncul, dan memastikan bahwa tidak ada kekuatan yang mendominasi yang lain.

Namun keadaan itu berubah ketika Galbatorix, salah satu penunggang naga, terobsesi untuk menjadi penguasa tunggal. Ia berkhianat bersama mereka yang kemudian dikenal sebagai para pengkhianat terkutuk. Setelah melalui pertempuran panjang, Galbatorix menang dan menjadi penguasa yang lalim.

Puluhan tahun ia memerintah, dan kekuasaannya tidak pernah merasa cukup. Ia memastikan bahwa tidak ada kekuatan lain yang dapat menyainginya.

Caranya sederhana tetapi kejam: menguasai sumber kekuatan itu sendiri.

Naga diburu dan dimusnahkan. Para penunggang naga yang tersisa diburu—dipaksa bergabung dengannya, atau dimusnahkan jika menolak. Galbatorix menggunakan sihir-sihir gelap dan kekuatan kegelapan untuk menundukkan lawan-lawannya, memastikan bahwa tidak ada kekuatan yang cukup besar untuk menantangnya.

Satu prinsip tampak jelas dalam cara ia berkuasa: sumber kekuatan yang berpotensi menggoyahkan kekuasaan harus ditundukkan, diajak kompromi, atau dihilangkan.

Ketika satu pihak berhasil menguasai seluruh sumber kekuatan, keseimbangan dalam masyarakat pun hilang. Kekuasaan tidak lagi berdiri di atas persetujuan bersama, tetapi di atas dominasi.

Namun yang menarik dalam kisah Eragon adalah bahwa kesadaran sebenarnya tidak sepenuhnya hilang. Banyak orang tahu bahwa Galbatorix adalah penguasa yang lalim. Mereka sadar bahwa dunia yang dahulu dijaga oleh para Dragon Rider telah berubah menjadi dunia yang dikuasai oleh ketakutan.

Tetapi kesadaran saja tidak cukup.

Selama seluruh sumber kekuatan dimonopoli oleh satu penguasa, kesadaran itu sulit berubah menjadi perlawanan yang nyata. Masyarakat mungkin tahu bahwa mereka hidup di bawah tirani, tetapi pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk menantangnya.

Pada tahap ini, kesadaran tidak benar-benar hilang. Ia hanya menyelam lebih dalam—ke dalam alam bawah sadar masyarakat. Ia menjadi seperti benih yang tersembunyi di dalam tanah: tidak terlihat oleh penguasa, tetapi tetap hidup.

Benih itu menunggu waktunya. Menunggu saat ketika keadaan memungkinkan ia tumbuh, bangkit, dan akhirnya mengaum, memberikan perlawanan.


2. Menguasai Narasi dan Ingatan

Animal Farm adalah sebuah novel satire tentang kekuasaan. Ceritanya dimulai ketika sekelompok binatang di Peternakan Manor memberontak terhadap tuannya, Mr. Jones. Mereka berhasil mengusir sang pemilik dan mengambil alih peternakan itu.

Peternakan itu kemudian mereka beri nama Animal Farm. Perubahan nama ini seolah menandai lahirnya sebuah harapan baru: sebuah kehidupan yang lebih adil bagi para binatang, bebas dari penindasan manusia. Dalam semangat awal revolusi itu, para binatang sepakat untuk hidup setara dan mengatur diri mereka sendiri.

Mereka merumuskan tujuh perintah dasar sebagai prinsip hidup bersama. Salah satu yang paling terkenal berbunyi: “All animals are equal.”

Namun seperti banyak revolusi dalam sejarah, perubahan kekuasaan tidak selalu berakhir dengan kebebasan yang sejati.

Perlahan-lahan para babi mulai mengambil peran yang semakin dominan dalam mengatur peternakan. Mereka dianggap lebih cerdas dibanding binatang lain, sehingga keputusan-keputusan penting semakin sering berada di tangan mereka.

Di antara para babi itu, Napoleon muncul sebagai tokoh yang paling ambisius.

Awalnya ia tidak sendirian. Ia memimpin bersama Snowball, babi lain yang juga berperan besar dalam revolusi. Bahkan dalam peristiwa Battle of the Cowshed—pertempuran melawan manusia yang mencoba merebut kembali peternakan—Snowball digambarkan sebagai tokoh yang sangat berani dan strategis.

Snowball juga dikenal sebagai sosok yang penuh gagasan. Ia merancang berbagai ide untuk memajukan peternakan dan berbagai perbaikan dalam tata kelola kerja para binatang. Banyak binatang mengagumi gagasan-gagasannya.

Namun bagi Napoleon, Snowball bukan lagi sekadar rekan seperjuangan. Ia adalah saingan.

Ketika ambisi untuk menjadi penguasa tunggal semakin kuat, Napoleon tidak lagi melihat keahlian Snowball atau potensinya bagi kemajuan peternakan. Yang ia lihat hanyalah ancaman terhadap kekuasaannya.

Snowball kemudian disingkirkan—bukan hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan pengendalian narasi. Ia difitnah sebagai pengkhianat dan musuh peternakan. Dalam situasi penuh tekanan itu, Snowball akhirnya melarikan diri dari Animal Farm.

Setelah itu, Napoleon menggunakan tokoh lain untuk memperkuat kekuasaannya: Squealer.

Squealer adalah babi yang berperan sebagai juru bicara kekuasaan. Melalui pidato-pidatonya, ia memutarbalikkan fakta, mengubah ingatan kolektif para binatang, dan secara perlahan memodifikasi aturan-aturan yang sebelumnya disepakati bersama.

Perubahan itu dilakukan sedikit demi sedikit sehingga sering kali hampir tidak disadari.

Aturan yang dahulu jelas mulai ditulis ulang. Sejarah diputarbalikkan. Snowball yang dulu dianggap pahlawan tiba-tiba digambarkan sebagai pengkhianat sejak awal. Para binatang pun mulai meragukan ingatan mereka sendiri.

Narasi tentang perubahan itu selalu dibungkus dengan alasan yang terdengar masuk akal: demi keamanan peternakan, demi kepentingan bersama, demi masa depan semua binatang.

Namun di balik semua itu, perubahan tersebut sebenarnya hanya melayani satu tujuan: melanggengkan kekuasaan para penguasa.

Dalam situasi seperti ini, propaganda menjadi alat yang sangat efektif. Sejarah diputarbalikkan, fitnah disebarkan, dan pemikiran kritis perlahan digantikan oleh slogan-slogan yang terus diulang.

Pada akhirnya, kebenaran menjadi kabur—dan kekuasaan dapat bertahan tanpa harus selalu menggunakan kekerasan.

Di sinilah narasi memainkan perannya terhadap kesadaran. Jika dalam dunia Eragon kesadaran masyarakat masih ada tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melawan, dalam Animal Farm kesadaran itu perlahan dikaburkan.

Para binatang tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran, tetapi mereka dibuat ragu terhadap ingatan dan pemahaman mereka sendiri.

Ketika ingatan kolektif terus-menerus diubah, ketika sejarah diputarbalikkan, dan ketika slogan menggantikan pemikiran, kesadaran masyarakat tidak lagi berdiri di atas kenyataan—melainkan di atas narasi yang diciptakan oleh penguasa.

Dalam kondisi seperti itu, kekuasaan tidak perlu menghancurkan kesadaran.
Cukup mengarahkannya.


3. Membungkam Kesadaran dan Perlawanan

Cara yang paling keras dalam mempertahankan kekuasaan terlihat dalam Laut Bercerita. Dalam kisah ini, kekuasaan tidak sekadar memutarbalikkan narasi seperti dalam Animal Farm, tetapi juga berusaha menghilangkan orang-orang yang berani mempertanyakan sistem.

Novel ini mengambil latar belakang masa runtuhnya Orde Baru pada penghujung pemerintahan Suharto. Ia menceritakan kisah para aktivis mahasiswa yang terlibat dalam gerakan mendampingi masyarakat tertindas serta memperjuangkan perubahan politik pada masa itu.

Namun perjuangan itu harus berhadapan dengan kekuasaan yang tidak segan menggunakan aparat negara untuk membungkam suara-suara kritis. Para aktivis ditangkap, diinterogasi, disiksa, dan sebagian dari mereka tidak pernah kembali.

Novel ini menyentuh salah satu luka sejarah paling kelam di negeri ini, terutama peristiwa-peristiwa menjelang runtuhnya Orde Baru, termasuk ketegangan sosial dan tragedi yang terjadi pada tahun 1998.

Dalam cerita itu, para aktivis yang bersuara kritis dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas kekuasaan. Mereka diculik dan dihilangkan, sementara keluarga mereka dipaksa hidup dalam ketidakpastian yang panjang—menunggu tanpa pernah benar-benar mengetahui nasib orang yang mereka cintai.

Ketakutan menjadi alat kekuasaan.

Dalam situasi seperti itu, yang diserang bukan hanya tubuh manusia melalui kekerasan fisik, tetapi juga harapan dan keberanian masyarakat untuk bersuara.

Jika dalam Eragon kesadaran masyarakat masih hidup tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melawan, dan dalam Animal Farm kesadaran itu dikaburkan melalui propaganda, maka dalam kisah Laut Bercerita kesadaran justru menjadi sesuatu yang harus dibungkam.

Karena bagi kekuasaan yang tidak adil, kesadaran adalah ancaman yang paling berbahaya.

Orang yang sadar akan ketidakadilan akan mulai bertanya.
Orang yang bertanya akan mulai meragukan kekuasaan.
Dan ketika keraguan itu menyebar, kekuasaan yang berdiri di atas ketakutan mulai kehilangan pijakannya.

Itulah sebabnya dalam banyak rezim otoriter, bukan hanya tindakan yang diawasi—tetapi juga pikiran dan kesadaran.


Ketika Cerita Bertemu Realitas

Setelah menelusuri tiga kisah yang sangat berbeda—fantasi naga dalam Eragon, satire politik dalam Animal Farm, dan tragedi sejarah dalam Laut Bercerita—sulit untuk tidak melihat bahwa pola kekuasaan yang digambarkan dalam cerita-cerita itu juga muncul dalam dunia nyata.

Fiksi sering kali hanya memperjelas sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi di dunia kita.

Dalam Eragon, kekuasaan bertahan dengan menguasai sumber kekuatan. Dalam Animal Farm, kekuasaan bertahan dengan mengendalikan narasi dan ingatan kolektif. Dalam Laut Bercerita, kekuasaan bertahan dengan membungkam kesadaran melalui ketakutan dan kekerasan.

Pola yang sama dapat ditemukan dalam dinamika dunia hari ini.

Di panggung geopolitik global, negara-negara besar tidak jarang menggunakan berbagai alat untuk mempertahankan pengaruh mereka: kekuatan militer, pengendalian narasi, serta penguasaan sumber daya strategis.

Bahasa yang digunakan sering kali dibungkus dengan istilah yang terdengar mulia—seperti stabilitas, keamanan, atau perlindungan hak asasi manusia—namun di balik itu yang sebenarnya terjadi adalah perebutan pengaruh dan kepentingan, perebutan kuasa atas sumber daya.

Dalam beberapa konflik internasional, narasi tentang pembelaan nilai-nilai tertentu dapat menjadi legitimasi bagi tindakan militer terhadap negara lain yang secara prinsip merupakan negara berdaulat.

Di sisi lain, negara yang menjadi sasaran tekanan juga menggunakan alat-alat kekuasaan mereka sendiri untuk melawan. Konflik tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga melalui kendali atas sumber daya strategis dan jalur ekonomi global.

Energi adalah salah satu contohnya. Selat Hormuz, misalnya, merupakan jalur penting bagi lalu lintas minyak dunia. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga oleh masyarakat global yang bergantung pada stabilitas pasokan energi.

Dalam situasi seperti ini, yang sering kali paling merasakan dampaknya justru adalah masyarakat sipil.

Ketika konflik kekuasaan terjadi di tingkat negara, rakyat biasa sering kali menjadi pihak yang menanggung akibatnya—baik melalui krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, maupun ancaman kekerasan.

Melihat semua ini, pola yang tampak tidak jauh berbeda dari cerita-cerita yang saya baca.

Kekuatan, narasi, penguasaan sumber daya, dan ketakutan—
empat alat yang berulang kali digunakan untuk mempertahankan kekuasaan.


Penutup: Kesadaran yang Menjadi Ancaman

Dari dunia fantasi hingga satire di sebuah peternakan, dari cerita fiksi hingga tragedi sejarah, semuanya seolah menunjukkan satu hal yang sama.

Kekuasaan sering kali tidak hanya bertumpu pada kekuatan. Ia juga bertahan melalui narasi yang dikendalikan, ingatan yang diarahkan, serta ketakutan yang membuat orang enggan bersuara.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang selalu dianggap berbahaya oleh kekuasaan yang tidak adil: kesadaran.

Ketika manusia mulai sadar, mereka mulai bertanya.
Dan ketika pertanyaan mulai muncul, kekuasaan yang berdiri di atas ketakutan perlahan mulai kehilangan pijakannya.

Membaca novel menjadi bukan sekadar hiburan atau pelarian ketika cerita-cerita di dalamnya membuat kita berhenti sejenak dan memandang dunia dari sudut yang sedikit berbeda.

Melalui bacaan, kita kadang dapat mengenali sesuatu yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita. Mungkin di situlah letak keajaiban literasi: tulisan para pengarang dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang dan dalam berbagai situasi zaman.

Mari tumbuhkan semangat membaca anak Indonesia. 


Salam literasi. 




Ben R
Ben R Halo! Saya Ben Rumimbo. Sehari-hari mengajar fisika, tapi juga suka menulis, bereksperimen dengan blog, dan berbagi apa saja yang saya pelajari. Selamat datang di ruang catatan saya!

Posting Komentar untuk "Ketika Kekuasaan Takut pada Kesadaran"