Luruh dalam Diam
Sehelai daun yang selalu menari,
disentuh angin—perlahan lunglai,
berderai ke bumi dalam sepi,
menapak persada dengan bakti.
Tak ada yang ia pertahankan,
tak pula ia sesalkan—
sejak semula ia tahu:
arah pulang
bukan jalan menghilang.
Hijau yang pernah menjadi dirinya,
perlahan dilepas tanpa suara,
karena waktu
tak pernah meminta izin
mengambil kembali
yang pernah dititipkan.
Dan tanah menerima
dengan diam yang lapang—
diam yang tak bertanya.
Menjadikan gugur itu
sekadar jalan lain
untuk tetap ada.
Aku memandangnya,
sehelai yang jatuh tanpa keluh,
dan dalam sunyi itu
sesuatu ikut luruh,
merunduk pada bumi,
ibu bagi segala daun.
Posting Komentar untuk "Luruh dalam Diam"
silahkan berkomentar